BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan bidang kesehatan saat ini diarahkan untuk
menekan angka kematian yang disebabkan oleh berbagai penyakit yang jumlahnya
semakin meningkat. Masalah umum yang dihadapi dalam bidang kesehatan adalah
jumlah penduduk yang besar dengan angka pertumbuhan yang cukup tinggi dan
penyebaran penduduk yang belum merata, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi
yang masih rendah. Keadaan ini dapat menyebabkan lingkungan fisik dan biologis
yang tidak memadai sehingga memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit
(Menkes, 2010).
Penyakit diare yang sering menimbulkan Kejadian Luar
Biasa (KLB) seperti halnya kolera dengan jumlah penderita yang banyak dalam
waktu yang relatif singkat. Sampai saat ini, penyakit diare masih merupakan
penyebab utama penyakit perut dan kematian pada bayi dan anak-anak. Saat
ini angka kesakitan penyakit diare di indonesia masih sebesar 195/1.000
penduduk dan angka ini menunjukkan bahwa penyakit diare di Indonesia merupakan
yang tertinggi di antara negara-negara di ASEAN. Diare adalah salah satu
penyebab kematian paling banyak bagi balita, penyakit diare ini membunuh lebih
dari 1,5 juta orang/tahun.
Dampak yang
paling negatif dari penyakit diare pada bayi dan anak-anak, diantaranya adalah
menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan
kualitas hidup anak dimasa depan. Pada dekade 1950-1970-an, di
negara-negara berkembang (termasuk indonesia) hanya sekitar 20% etiologi diare
akut dapat diketahui. Pada waktu itu penyakit diare akut di masyarakat
(indonesia) lebih dikenal dengan istilah mutah berak “muntaber”.
Penyakit Diare ini mempunyai konotasi yang mengerikan, serta menimbulkan kecemasan dan kepanikan warga masyarakat. Jika tidak segera diobati, dalam waktu singkat (-+48 jam) Penderita akan meninggal.
Kematian ini dikarenakan hilangnya cairan elektrolit tubuh akibat adanya dehidrasi. Kemudian, diketahui bahwa penyebab muntaber adalah kuman Vibrio Cholera biotype El-Tor dan sesuai dengan nama penyebabnya tersebut maka kejadian wabah yang sering terjadi pada waktu itu lebih populer dengan istilah wabah Cholera El-Tor. Kejadian wabah Cholera El-Tor di indonesia yang pertama kali diketahui terjadi di Makasar (ujung pandang) pada tahun 60-an, dengan menimbulkan sejumlah kematian. Wabah penyakit ini kemudian diketahui sering terjadi di daerah-daerah lain diindonesia.
Penyakit Diare ini mempunyai konotasi yang mengerikan, serta menimbulkan kecemasan dan kepanikan warga masyarakat. Jika tidak segera diobati, dalam waktu singkat (-+48 jam) Penderita akan meninggal.
Kematian ini dikarenakan hilangnya cairan elektrolit tubuh akibat adanya dehidrasi. Kemudian, diketahui bahwa penyebab muntaber adalah kuman Vibrio Cholera biotype El-Tor dan sesuai dengan nama penyebabnya tersebut maka kejadian wabah yang sering terjadi pada waktu itu lebih populer dengan istilah wabah Cholera El-Tor. Kejadian wabah Cholera El-Tor di indonesia yang pertama kali diketahui terjadi di Makasar (ujung pandang) pada tahun 60-an, dengan menimbulkan sejumlah kematian. Wabah penyakit ini kemudian diketahui sering terjadi di daerah-daerah lain diindonesia.
B. Tujuan
Mengetahui definisi, penyebab diare, peranan yang
dapat merugikan manusia, serta mengetahui cara pencegahannya.
BAB II
ISI
A. Definisi Diare
Diare adalah sebuah
penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang
terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air
berlebihan. Penyakit diare, penderita mengalami rangsangan buang air
besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari, dan biasanya
berlangsung selama dua hari atau lebih. Pada dasarnya, diare merupakan
perubahan pola buang air besar (BAB). Baik frekuensinya bertambah atau berubah
konsistensinya, dari yang semula padat menjadi lembek atau cair. Bisa juga
kedua-duanya. Frekuensi BAB sebanyak 1-3 kali sehari masih dalam batas normal.
”Tapi kalau sudah di atas tiga kali sehari, apalagi disertai perubahan
konsistensi, itu bisa dikatakan diare.
B. Jenis-jenis diare
Diare akut : kurang dari 2 minggu
Diare Persisten : lebih dari 2 minggu
Disentri : diare disertai darah dengan ataupun tanpa
lender
Kholera : diare dimana tinjanya terdapat bakteri
Cholora
C. Yang beresiko tinggi terkena diare
- Anak dibawah umur 5 tahun
- Manula
- Orang yang kekebalan tubuhnya rendah
D. Ciri-ciri / tanda penyakit diare
Kadang – kadang desertai panas
- Anak cengeng
- Berak encer terus menerus kadang disertai muntah
- Badan lemah dan lesu.
- Sering buang air besar
- Demam, panas dingin
- Haus
- Kehilangan berat badan
- Dehidrasi (pada bayi ditandai dengan menangis tanpa air mata, popok tetap kering selama beberapa jam).
E. Cara penularan diare
Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makanan / air
minum yang terkintaminasi tinja / muntahan penderita diare. Penularan langsung
juga dapat terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan.
- Pemakaian botol susu yang tidak bersih
- Menggunakan sumber air yang tercemar
- Buang air besar disembarang tempat
- Pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa, dll) atau oleh tangan yang kotor.
- Faktor kebersihan ternyata ikut andil dalam menyebabkan anak diare. Mulai dari kebersihan alat makan anak sampai kebersihan setelah buang air kecil/buang air besar. Semua yang dapat mengenai tangan anak atau langsung masuk ke dalam mulut anak harus diawasi.
F. Penyebab Diare
- Makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu
- Maminum air yang masih mentah
- memakan makanan yang dihinggapi lalat/ makanan yang tercemari bakteri
- keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia
- Alergi terhadap susu
- Buang air besar di sembarang tempat
- tidak menjaga kebersihan sarana mandi, cuci dan jamban
- Hewan peliharaan dibiarkan berkeliaran
- lingkungan yagn kumuh dan kotor
Lingkungan yang kumuh dan kotor
menjadi tempat berkembangbiaknya agen pembawa penyakit diare seperti bakteri
(E.coli), virus dan parasit (jamur, cacing, protozoa). Lalat sebagai vector
pembawa turut membantu penybaran kuman penyakit diare.
G. Cara mencegah diare
Oarng dapat mencagah diare bila mereka memahami apa
penyebabnya dari diare dan bagaimana serta tindakan apa yang dapat dilakukan
terhadap penyakit itu, berikut adalah upaya – upaya pencgahan diare :
- menjaga kebersihan lingkungan (tidak buang sampah sembarangan, buang air besar di sebarang tempat, dll)
- menutup makanan agar tidak dihinggapi lalat
- merebus air untuk minum sampai dengan mendidih
- memberikan ASI pada bayi
- mencuci tangan dengan sabun sebelum makan
- mencuci tangan setelah membuang sampah dan membersihkan saluran
- mencuci tangan setelah membasuh balita buang air besar
- mencuci bahan makanan dan peralatan makan dengan air bersih
- penggunaan air bersih yang cukup
- hewan peliharaan diberikan kandang
- membuang tinaja bayi atau anak kecil di jamban
- menjaga kebersihan sarana sanitasi mandi, cuci dan jamban
H. Penanganan Diare
· meningkatan pemberian cairan rumah
tangga (kuah sayur, air tajin, larutan gula garam, bila ada berikan oralit)
· meneruskan pemberian makanan yang
lunak dan tidak merangsang serta makanan ekstra sesudah diare
· memberikan larutan gula garam
I. Cara Membuat larutan gula garam (LGG)
1. gula satu sendok teh penuh
2. garam ¼ sendok teh
3. air masak 1 gelas
4. campuran diaduk sampai larut
benar
J. Cara membuat oralit
- sediakan 1 gelas (200 ml) air yang telah dimasak / air teh
- masukan 1 bungkus bubuk oralit kedalam gelas
- aduk sampai larut benar
TAKARAN PEMBERIAN ORALIT
|
Umur
|
Jumlah Cairan
|
|
Di bawah 1 thn
|
3 jam pertama 1,5 gelas selanjutnya 0.5 gelas setiap
kali mencret
|
|
Dibawah 5 thn(anak balita)
|
3 jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas setiap
kali mencret
|
|
Anak diatas 5 thn
|
3 jam pertama 6 gelas, selnjutnya 1,5 gelas setiap
kali mencret
|
|
Anak diatas 12 thn & dewasa
|
3 jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas setiap
kali mencret(1 gelas : 200 cc)
|
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Penyakit diare merupakan penyakit yang berbahaya.
2. Apabila anak sudah terjangkit penyakit diare maka
harus segera ditangani dengan pergi ke Puskesmas atau penanganan sementara
dengan larutan gula garam (LGG) / oralit
3. Makanan sehat mendukung pencegahan penyakit diare.
B. SARAN
1. Sebaiknya ibu muda, saat anaknya mengalami diare
dilarang menggunakan pempers, agar mencret anak terkontrol berapa kali
mengeluarkan kotoran.
2. Kebiasaan sederhana
mencuci tangan dengan sabun
3. Pemberian makanan bersih sehat sangat mendukung
untuk pencegahan penyakit diare.
4. Pada balita sebaiknya pemberian
ASI minimal 6 bulan.
5. Gunakan air bersih untuk memasak
6. Rebus air sebelum diminum
7. Buang air besar pada jamban.


